BLACKBERRY
DC85A964
CALL CENTER
+855-9933-5199
+855-1179-9885
SMS CENTRE
+855-8928-0078
+855-1179-9855
WHATS APP
+62-812-1867-5622
LINE
HOKIWIN

Berita Bola

Juventus Belum Sempurna

Juventus Belum Sempurna

Juventus Belum Sempurna – Hallo Semuanya, Kali ini Agen Judi Online Boabet, akan mencoba memberikan Berita : Juventus Belum Sempurna.

Juventus Di Ambang Kesempurnaan
Judul Berita : Juventus Belum Sempurna

Bangkit dari titik terendah sepanjang sejarah klub satu dekade silam, siapa sangka Juventus kini ada di ambang kesempurnaannya.

“All Juventus Final!”, tulis salah satu media olahraga tersohor Prancis, L’Equipe, menyambut final Piala Dunia 2006. Ya, final yang mempertemukan Italia dan Prancis di Olympiastadion Berlin, Jerman.

Artikel L’Equipe merujuk pada banyaknya penggawa Juve di masa tersebut, yang menghuni skuat Italia dan Prancis. Gli Azzurri yang lekat dengan julukan Juve-Italia punya lima pemain, sementara Les Blues diperkuat tiga pemain.

Semuanya bermain di partai besar itu, dengan enam di antaranya jadi starter. Tim yang miliki Juventino lebih banyak akhirnya keluar sebagai pemenang, lewat drama adu penalti.

Patut diingat pula jika selain para pemain yang mentas di final Piala Dunia, kala itu Juve juga punya Giorgio Chiellini, Emerson, Pavel Nedved, Adrian Mutu, hingga Zalatan Ibrahimovic. Mereka pun dilatih oleh salah satu juru taktik terbaik dalam sejarah sepakbola, Fabio Capello.

Banyak media yang kemudian memperdebatkan, bagaimana bisa Juve yang punya skuat super macam itu gagal jadi juara Liga Champions musim 2005/06. Mereka lantas percaya bahwa musim selanjutnya, yakni pada kampanye 2006/07, akan jadi kesempurnaan Si Nyonya Tua baik di Italia maupun Eropa.

Sayang, siapa pun tahu akhir ceritanya. Lepas Piala Dunia 2006, Juve didakwa jadi dalang utama Calciopoli. Dua Scudetto terakhir mereka dicabut dan dipaksa turun ke Serie B Italia. Momen itu sontak jadi titik terendah dalam sejarah besar klub kebanggaan Negeri Pizza tersebut.

Mayoritas bintang memutuskan pergi. Hanya bintang dengan ikatan emosional kuat saja yang bertahan dan mau melepas gengsi untuk berkarier di Serie B. Skuat Juve yang tadinya punya daya jual hingga €317 juta, terpangkas habis jadi hanya  €187 juta.

Daftar

By Master Agen Betting

Bicara kesempurnaan, jelas jauh dari pandang sebagaimana Juve yang harus berkutat di Serie B. Untungnya hanya butuh semusim untuk I Bianconeri comeback ke Serie A, dengan jadi kampiun Serie B 2006/07 meski alami pemangkasan sembilan poin di awal musim.

Kembali ke Serie A di musim 2007/08, Juve kemudian dihadapkan pada kesulitan luar biasa untuk kembalikan kejayaan. Tampak cerah memang di dua musim perdananya lakoni comeback, dengan selalu finish di tiga besar klasemen akhir.

Namun manajemen tim yang jelek membuat Juve selalu malu di kompetisi Eropa, yang imbasnya begitu buruk di Serie A. Pada musim 2009/10 dan 2010/11, secara mengenaskan La Vecchia Signora mengakhiri musim di peringkat tujuh! Ya, lolos ke Eropa saja tak sanggup mereka lakukan.

Periode suram itu adalah masa di mana Juventini pernah punya harapan besar pada pemain-pemain medioker macam Sergio Almiron, Felipe Melo, Diego Ribas, Milos Krasic, atau Carvalho Amauri. Benar, bukan lagi figur-figur besar macam Lilian Thuram, Fabio Cannavaro, Edgar Davids, Zinedine Zidane, atau Zlatan Ibrahimovic.

Hingga akhirnya titik cerah hadir dari perombakan yang dilakukan Andrea Agnelli, putra bungsu presiden legendaris Juve, Umberto Agnelli, pada medio 2010. Tidak, sang presiden muda tidak melakukan perombakan ala taipan minyak untuk klub-klub medioker mendadak kaya dengan borong pemain supermahal.

Andrea hanya melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan untuk tim besar. Sentuhan magis yang pernah Umberto lakukan dahulu. Kebijakan untuk merombak Juve dari akarnya, untuk nantinya tinggal memetik buah manis prestasi.

Tidak instan, tapi juga tak butuh waktu yang lama. Dengan merekrut orang-orang yang tepat di jajaran manajemen layaknya Beppe Marotta, Fabio Paratici, sampai Pavel Nedved, Juve lantas kembali pada jati dirinya sejak musim 2011/12.

Usai membangun kebijakan fantastis di infrastruktur lewat branding “J”, mereka lantas merekrut orang-orang yang tepat di sektor teknis. Tidak sembarangan, karena dilakukan dengan analisis mendalam dan insting tajam. Prinsip awalnya hanya satu, bisa mencukupi kebutuhan taktikal, ekonomis, tapi tidak dengan kualitas murahan.Antonio Conte dan kini Massimiliano Allegri jadi nakhoda tim, yang datang dengan penuh keremeh-temehan sekarang justru dipandang sebagai salah satu pelatih terbaik dunia. Andrea Barzagli, Andrea Pirlo, Patrice Evra, hingga Dani Alves, direkrut murah bahkan gratis untuk berikan pengaruh masif mentalitas juara.

Arturo Vidal, Paul Pogba, Alvaro Morata, sampai Kingsley Coman, didatangkan dengan penuh kepolosan dan harga minimal, tapi sanggup berikan kontribusi luar biasa dan pergi lewat harga mewah. Belum lagi penggawa sarat kualitas seperti Leonardo Bonucci, Mario Mandzukic, dan Paulo Dybala yang perlahan jadi idola baru Juventini.

Manajemen Juve juga brilian dengan tetap menjaga fondasi timnya, dalam diri Stephan Lichststeiner, Giorgio Chiellini, Claudio Marchisio, dan tentunya sang kapten Gianluigi Buffon. Mereka-mereka inilah, yang juga punya pengaruh besar di ruang ganti.

Dari geliat yang Agnelli cs lakukan di atas hingga detik ini, Juve pun dibawanya merengkuh enam Scudetto beruntun, tiga Coppa Italia beruntun, dan tiga Piala Super Italia. Dua gelar yang disebut pertama, belum pernah dilakukan klub Italia manapun sepanjang sejarah.

Deretan gelar yang diraih otomatis berimbas ke sektor finansial. Juve yang sejak kejatuhan Calciopoli tak pernah masuk dalam jajaran 20 klub terkaya dunia versi Deloitte Football Money, dalam tiga musim terakhir awet duduki jajaran sepuluh besar.

Juve yang tadinya harus bersusah payah mendatangkan pemain medioker seperti Felipe Melo di harga €25 juta, sekarang mampu jadikan Gonzalo Higuain sebagai pemain berbanderol termahal keempat di dunia lewat angka €90 juta.

Juve yang ketika promosi ke Serie A sedekade silam cuma dibekali skuat seharga €218 juta, kini punya komposisi skuat senilai €451 juta. Sungguh kebangkitan luar biasa yang dilakukan La Vecchia Omcidi dalam kurun satu dekade sejak mimpi buruk Calciopoli.

“Kisah yang luar biasa, terutama buat kami yang berjuang bersama untuk Juve sejak Serie B. Momen ketika semua orang berpaling dari Anda dan kini semuanya justru mengagungkan Anda,” tutur Chiellini sesaat usai rayakan Scudetto keenam beruntun, seperti dikutip Tuttosport.

Namun tetap ada yang kurang dalam kejayaan masif tersebut. Sesuatu yang membuat Juve mencapai titik kesempurnaan. Sesuatu yang sedekade silam diributkan media untuk bisa diwujudkan Juve. Ya, apalagi jika bukan kejayaan di Eropa, meraih trofi “Si Kuping Lebar” Liga Champions.

Hat-trick Coppa Italia sudah dicetak dan Scudetto keenam berutun berhasil digapai. Musim ini bakal resmi jadi periode terbaik sepanjang sejarah Juve, jika akhirnya mampu kalahkan Real Madrid di final Liga Champions nanti.

Treble winners begitu kencang didengkungkan Juventini agar bisa diwujudkan tim kesayangannya untuk kali pertama. Meraihnya di musim di mana mereka baru saja menorehkan sejarah terbesar di sepakbola Italia, jelas bakal jadi kesempurnaan yang hakiki.

Musim 2014/15 lalu, sejatinya Juve bisa sampai lebih cepat ke titik sempurna. Sayangnya kala itu segalanya terasa tak tepat. Allegri baru melatih di musim perdananya, mayoritas pemain mereka baru menjalani musim kedua atau ketiga di Liga Champions, dan lawan yang dihadapi adalah Barcelona yang saat itu seakan dari planet lain.

Kini Juve sudah jauh lebih berpengalaman, jauh lebih kuat secara teknis, dan hasrat untuk raih treble sudah sangat tegas sejak awal musim. Jika tidak sekarang, entah kapan lagi La Vecchia Signora bisa merangkai kisah seindah ini untuk gapai kesempurnaannya.

Demikianlah Artikel Juventus Belum Sempurna Semoga artikel ini bisa bermanfaat.

0.00 avg. rating (0% score) - 0 votes